Benarkah Orang Baik Belum Tentu Masuk Surga ?
Apakah Bunda Theresa yang sepanjang usia nya dibaktikan untuk umat miskin India harus masuk neraka ? Apakah Paus Paulus II yang pernah menjamu calon pembunuhnya dengan baik hingga si calon pembunuhpun membatalkan rencana pembunuhan tersebut juga tak pantas masuk surga ? Apakah Mahatma Gandi yang secara lembut, sabar dan selalu menggunakan jalan damai untuk membela kemerdekaan rakyat India juga harus masuk neraka ? Bagaimana pula dengan sebagian dari milyaran umat manusia non Islam yang baik hati, apakah mereka harus masuk neraka dibanding sebagian dari milyaran umat Islam tapi buruk perilakunya ?
Apakah Akhlak Menentukan Seseorang Masuk Surga atau Tidak ?
Ada satu jawaban yang singkat, jelas dan tegas untuk pertanyaan tersebut yaitu, “kalau memang akhlak dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas tidaknya seseorang masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini”
Kalau memang akhlak kriteria utama menentukan masuk surga atau tidaknya seseorang, maka untuk apa lagi agama, karena tanpa agama saja orang bisa berbuat baik. Di negeri atheis seperti di Rusia, China, atau di negeri sekuler seperti Eropa dan Amerika, ditemukan banyak orang yang tak beragama tapi memiliki akhlak yang luar biasa baiknya. Tidak usah jauh-jauh, pasti kita sering menemukan diantara teman atau tetangga kita akhlaknya sangat baik, ia mengaku punya agama tapi tak pernah sholat atau ke gereja, tapi nyatanya akhlaknya lebih baik dari umat Islam yang rajin beribadah.
Sifat baik adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita didalam kandungan. Fitrah (sifat-sifat baik) adalah kecenderungan manusia untuk berbuat kebaikan, seperti halnya binatang buas diberi Allah kecenderungan untuk bersifat buas, mereka akan tetap buas walaupun manusia berusaha menjinakkannya. Hawa nafsu dan pilihan manusia sendiri yang membuat seorang manusia menjadi jahat dan berperilaku buruk.
Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan yang menyebabkan mereka tersesat dari agama mereka” (HR Muslim).
Allah menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau yang buruk sesuai firman Allah : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS, Al-Balad 90 : 10). “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS, Al-Insaan 76 : 3).
Kemudian setan berusaha mengaburkan jalan yang benar sehingga jalan yang baik oleh manusia dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah 2 : 216) : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Namun tujuan tulisan ini sama sekali bukan untuk menyatakan bahwa akhlak yang baik tidak penting, atau menjadi muslim yang berperilaku buruk lebih baik daripada non-Islam yang baik hati. Tujuan tulian ini agar kita menyadari bahwa Tuhan tidak menuntut dari manusia sekedar akhlak yang baik, tapi juga ada hal lain yang lebih utama dibanding akhlak.
Bahkan Akhlak Seorang Muslim Yang Baik Sekalipun Tidak Cukup Untuk Membuatnya Masuk Surga.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?” Nabi SAW sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu ia berkata : “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita terhadap anaknya. Kita merasa sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua orang tua pada anaknya jauh lebih besar nilainya dari yang dibayangkan manusia. Pasti ada sesuatu perbuatan lain yang harus kita lakukan untuk memperbanyak balas budi kita pada kedua orang tua kita. Diantaranya dengan cara menjadi anak yang sholeh dan selalu mendoakan kedua orangtua kita.
Untuk membalas budi kedua orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup, apalagi membalas kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih sayang pada kedua orang tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang mampu melihat, telinga yang mampu mendengar, lidah yang mampu merasakan kelezatan makanan, yang telah mengkaruniakan kita udara secara gratis.
Ada perspektif yang sama antara hadits tersebut barusan dengan hadits berikut ini.. Rasulullah SAW pernah berkata, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh sayapun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah.. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan
Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Apa makna dari kedua hadits tersebut diatas ? Yaitu bahwa perbuatan baik (akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga. Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal ibadah juga tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunan-Nya lah yang bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak memohon rahmat dan ampunan Allah.
Pertanyaan berikutnya (dikaitkan dengan judul tulisan ini) adalah apa syaratnya agar doa kita untuk memohon rahmat dan memohon ampunan Allah bisa diterima ?
Tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan dari ancaman neraka. Karena itu Allah menentukan syarat utamanya adalah beriman kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat). Ia harus memiliki aqidah yang benar, memahami siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa yang dimaui-Nya, bagaimana cara mencintai-Nya. Inilah syarat utama agar permohonan rahmat dan ampunan kita bisa diterima.
Apakah Benar Anggapan Bahwa Sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Akan Membuat Allah Tidak Mungkin (Tega) Menghukum Orang Yang Baik Hati ?
Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, seperti tersebut dalam Al Qur’an surat Al Furqan ayat 23, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”.
Ibarat seorang pembantu yang bekerja keras pada majikannya, setiap hari ia bangun pagi membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu halaman, menjaga keselamatan anak majikan selama majikan bekerja diluar. Namun sang pembantu yang rajin ini ternyata tidak sopan dalam kata dan perilaku, Sang pembantu tidak mau berusaha memperbaiki sikapnya ini pada atasannya, karena ia mempunyai pendapat sendiri tak mungkin majikan akan memecatnya karena ia sudah bekerja sangat keras dan merawat anak-anak majikannya dengan baik. Ia tidak juga berusaha mencari tahu apa yang diinginkan sang majikan. Padahal jelas sang majikan sudah menulis tatatertib dan uraian kerja pembantu rumah tangga, diantaranya disebutkan bahwa kesopanan adalah syarat terpenting bekerja di rumah majikan tersebut. Bahkan terkadang ia sombong dan keras hati serta menyimpulkan sendiri bahwa sebagai orang yang berintelektual tinggi seharusnya majikannya bisa menerima kekurangan sang pembantu. Iapun kaget
ketika di akhir bulan, sang majikan memecatnya dengan alasan tidak sopan. Ia protes tapi majikannya punya hak.
Analogi sederhana ini, menyiratkan bahwa agar doa, ampunan, amal dan ibadah kita bisa diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui perenungan dan makrifatullah. Kitapun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu apa sebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah dan akhlak baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karena karya-Nya ada disekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan Ia telah memperkenalkan diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran nabi-Nya. Dengan mengenal allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah sangatlah penyayang, demikian sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak kesalahan kita yang dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu berlebihan kalau keimanan, amal ibadah dan kebaikan kita dibalas dengan surga yang luar biasa nikmatnya. Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup juga akan memudahkan kita memahami mengapa Allah mengancam orang-orang tidak beriman dan yang buruk akhlaknya dengan neraka.
Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia, karena hakikat sifat-sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh hati manusia. Hati manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam hati bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta kepada Allah. Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat sombong, dengki, kikir, dsbnya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk memahami sifat-sifat Allah dengan baik.
Tanpa Mengenal Sifat Allah Dengan Baik Maka Sia-sialah Akhlak Baik, Amal dan Ibadah Kita
Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur dalam Qur’an dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya diterima.
Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya. Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak, bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini (aqidah, ibadah dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satupun, dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila ibadah dan akhlak buruk maka ia ‘mungkin’ masih berpeluang masuk surga setelah di’cuci’ dulu di neraka. Semoga kita tidak termasuk sebagai
orang yang di’cuci’ dulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung kita masih hidup di dunia ini, semoga kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk menganggap bahwa di’cuci’ di neraka adalah bukan masalah besar. Tidak untuk sedetikpun ! Naudzu billah min dzalik.
Aqidah adalah apa yang diyakini seseorang, bebas dari keraguan. Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Aqidah Islam merupakan syarat pokok menjadi seorang mukmin, dan merupakan syarat sahnya semua amal kita. Untuk memperoleh aqidah yang lurus kita perlu mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah dan apa-apa yang disukai dan dibenci Allah. Tanpa aqidah yang lurus maka amal ibadah kita tidak diterima-Nya. Salah satu hal yang paling dibenci Allah SWT adalah syirik, yaitu mensejajarkan diri-Nya dengan makhluk atau benda ciptaan-Nya. Allah berfirman, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang yang merugi” (QS, Az-Zumar: 65).
Aqidah adalah tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil, dan tidak ada medan ijtihad atau berpendapat didalamnya. Sumbernya hanya al-Qur’an dan as-Sunnah, sebab tidak ada yang lebih mengetahui tentang sifat-sifat Allah selain Allah sendiri. Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah SWT dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan ta’at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-Prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.
Begitu pentingnya aqidah dalam Islam, sehingga pelurusan aqidah adalah dakwah yang pertama-tama dilakukan para rasul Allah, setelah itu baru mereka mengajarkan perintah agama (syariat) yang lain. Didalam Al Qur’an, surat Al-A’raf ayat 59, 65, 73 dan 85, tertulis beberapa kali ajakan para nabi, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya”. Dengan demikian ilmu Tauhid sebagai ilmu yang menjelaskan aqidah yang lurus, merupakan ilmu pokok yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang ingin memperdalam ilmu agamanya. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka, yang lama kelamaan akan menutup pandangannya dan menjauhkannya dari jalan hidup kebahagiaan. Tanpa aqidah yang lurus seseorang akan mudah dipengaruhi dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan keimanan kita.
Wallahu a’lam bish shawab.
https://bhudakmandiri.wordpress.com/benarkah-orang-baik-belum-tentu-masuk-surga/
Tampilkan postingan dengan label Pelajaranku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaranku. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Mei 2015
Kamis, 13 November 2014
KISAH SECANGKIR KOPI
KISAH SECANGKIR KOPI
Suatu hari di sebuah universitas terkenal. Sekelompok alumnus
bertamu di rumah dosen senior, setelah bertahun-tahun mereka lulus. Setelah
mereka semua menggapai kesuksesan, kedudukan yang tinggi serta kemapanan
ekonomi dan sosial.
Setelah saling menyapa dan berbasa basi, masing-masing mereka
mulai mengeluhkan pekerjaannya. Jadwal yang begitu padat, tugas yang menumpuk
dan banyak beban lainnya yang seringkali membuat mereka stress.
Sejenak sang dosen masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian,
beliau keluar sambil membawa nampan di atasnya teko besar berisikan kopi dan
berbagai jenis cangkir.
Ada cangkir-cangkir keramik tiongkok yang mewah. Cangkir-cangkir
kristal. Cangkir-cangkir melamin. Dan cangkir-cangkir plastik. Sebagian cangkir
tersebut luar biasa indahnya. Ukirannya, warnanya dan harganya yang waahh.
Namun ada juga cangkir plastik yang biasanya berada di rumah orang-orang yang
amat miskin.
Sang dosen berkata, “Silahkan.. masing-masing menuangkan kopinya
sendiri”.
Setelah setiap mahasiswa memegang cangkirnya, sang dosen berkata,
“Tidakkah kalian perhatikan bahwa hanya cangkir-cangkir mewah saja yang kalian
pilih? Kalian enggan mengambil cangkir-cangkir yang biasa?
Manusiawi sebenarnya, saat masing-masing dari kalian berusaha
mendapatkan yang paling istimewa. Namun seringkali itulah yang membuat kalian
menjadi gelisah dan stress.
Sejatinya yang kalian butuhkan adalah kopi, bukan cangkirnya.
Akan tetapi kalian tergiur dengan cangkir-cangkir yang mewah.
Terus perhatikanlah, setelah masing-masing kalian memegang cangkir tersebut,
kalian akan terus berusaha mencermati cangkir yang dipegang orang lain!.
Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan
kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya.
Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan.
Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah.
Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu
pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi.
Karena itu kunasehatkan pada kalian, jangan terlalu
memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya…”.
Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia. Banyak orang
yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang ia miliki, setinggi apapun
kesuksesannya. Sebab ia selalu membandingkannya dengan apa yang dimiliki orang
lain.
Setelah menikah dengan seorang wanita cantik yang berakhlak
mulia, ia selalu berfikir bahwa orang lain menikah dengan wanita yang lebih
istimewa dari istrinya.
Sudah tinggal di rumah sendiri, namun selalu membayangkan bahwa
orang lain rumahnya lebih mewah dari rumah sendiri.
Ia bukannya menikmati kehidupannya beserta istri dan
anak-anaknya. Tapi justru selalu memikirkan apa yang dimiliki orang lain,
seraya berkata, “Aku belum punya apa yang mereka punya”.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,
"مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا"
"Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman
dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan
ia telah memiliki dunia seisinya". (HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh
al-Albani).
✒Seorang bijak berpetuah,
“Alangkah anehnya kebanyakan manusia! Mereka korbankan kesehatan untuk
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Setelah terkumpul, gantian mereka
gunakan harta tersebut untuk mengembalikan kesehatannya yang telah hilang!
Mereka selalu gelisah memikirkan masa depan, namun melupakan
hari ini. Akibatnya, mereka tidak menikmati hari ini dan tidak pula hidup di
masa datang.
Mereka senantiasa melihat apa yang dimiliki orang lain, namun
tidak pernah melihat apa yang dimilikinya sendiri. Akibatnya, ia tidak bisa
meraih apa yang dimiliki orang lain dan tidak pula bisa menikmati milik
sendiri.
Mereka diciptakan untuk satu tujuan, yakni beribadah. Dunia
diciptakan untuk mereka gunakan sebagai sarana beribadah. Namun justru sarana
tersebut malah melalaikan mereka dari tujuan utama”.
Maka, mari kita nikmati kopi kehidupan tersebut, apapun
cangkirnya…
Ustadz Musyaffa Ad Dariny
13 Nopember 2014
Senin, 15 September 2014
TIDUR DALAM TATANAN SUNNAH
TIDUR DALAM TATANAN SUNNAH
Tidur
Sebagai Satu Diantara Tanda Kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
وَمِنْ ءَايَاتِهِ مَنَامُكُم
بِالَّليْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ
لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya
adalah tidurmu diwaktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari
karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan". [Ar Rum: 23]
Syaikh Abdur
Rahman Bin
Nashir As Sa’di berkata ketika menafsirkan ayat di atas, “Tidur merupakan satu
bentuk dari rahmat Allah sebagaimana yang Ia firmankan.
وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ
اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan karena rahmatNya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya
kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari
karuniaNya (pada siang hari) dan supaya kamu bersyukur". [Al Qashahs: 73].
Maka
berdasarkan konsekwensi dari kesempurnaan hikmahNya, Ia menjadikan seluruh
aktivitas makhluk berhenti pada suatu waktu (yakni pada malam hari) agar mereka
beristirahat pada waktu tersebut, dan kemudian mereka berpencar pada waktu yang
lain (yakni pada siang hari) untuk berusaha mendapatkan kemashlatan dunia dan
akhirat. Hal yang demikian itu tidak akan sempurna berlangsung kecuali dengan adanya
pergantian siang dan malam. Dan Dzat Yang Maha Kuasa mengatur semua itu tanpa
bantuan siapapun, Dialah yang berhak disembah”
Jadi
tidak hanya sebagai rutintas semata, tidur juga merupakan satu wujud dari
rahmatNya nan luas dan kemahakuasanNya yang sempurna. Padanya tersimpan hikmah
dan kemashlahatan bagi para makhluk. Tidur juga merupakan satu simbol akan
kekuasaanNya untuk membangkitkan makhluk setelah Ia mematikan mereka.
Setidaknya
tidur memiliki dua manfaat penting , sebagaimana yang dituturkan Ibnul Qayyim
rahimahullah dalam Zaadul Maad.
Pertama
: Untuk menenangkan dan mengistirahatkan tubuh setelah beraktivitas.
Sebagaimana firman Allah.
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
"Dan Kami jadikan tidurmu untuk
istirahat". [An Naba : 9]
Kedua
: Untuk menyempurnakan proses pencernaan makanan yang telah masuk ke dalam
tubuh. Karena pada waktu tidur, panas alami badan meresap ke dalam tubuh
sehingga membantu mempercepat proses pencernaaan.
TELADAN
RASULULLAH DALAM MASALAH TIDUR
Pola
tidur seseorang memiliki kontribusi cukup penting bagi aktivitasnya secara
keseluruhan.
Kebiasaan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang waktu tidur adalah teladan
terbaik. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah tidur melampaui batas yang dibutuhkan tubuh, tidak juga menahan
diri untuk beristirahat sesuai kebutuhan. Inilah prinsip pertengahan yang
Beliau ajarkan. Selaras dengan fitrah manusia. Jauh dari sikap ifrath
(berlebih-lebihan) ataupun tafrith (mengurangi atau meremehkan).
Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa tidur pada awal malam dan bangun pada
pertengahan malam. Pada sebagian riwayat dijelaskan, Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam tidur berbaring di atas rusuk kanan Beliau. Terkadang Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidur terlentang dengan meletakkan salah satu
kakinya di atas yang lain. Sesekali Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
letakkkan telapak tangannya di bawah pipi kanan Beliau. Kemudian Beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam berdoa. Satu catatan penting juga, Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam tidaklah tidur dalam kondisi perut penuh berisi makanan.
Diantara doa yang Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
ajarkan untuk dibaca sebelum tidur adalah sebagaimana yang tertuang dalam
hadits berikut.
عَنِ البَرَّاء بنِ عَازِب، أَنَّ
رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: (( إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ
فَتَوَضَأْ وُضُوءَكَ للصَلاةِ، ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ، ثُمَّ
قُلْ: اللهُمَّ إِنِّي اَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ،
وَ فَوَضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَ أَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَ
رَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَا منك إَلاّ إِلَيْكََ ، أَمَنْتُ
بِكِتَابٍكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَ بِنَبِيِّكَ الذي أَرْسَلْتَ وَ اجْعَلْهُنَّ
آخِرَ كَلاَمِكَ فَإِنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مِتَّ على الفِطْرَة))
"Dari al Barra bin Azib, bahwa Rasululah bersabda,”Jika
engkau hendak menuju pembaringanmu, maka berwudhulah seperti engkau berwudhu
untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu sebelah kanan lalu ucapkanlah
doa:” Ya Allah sesungguhnya aku menyerahkan jiwaku
hanya kepadaMu, kuhadapkan wajahku kepadaMu, kuserahkan segala urusanku hanya
kepadamu, kusandarkan punggungku kepadaMu semata, dengan harap dan cemas
kepadaMu, aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang
Engkau utus” dan hendaklah engkau jadikan doa tadi sebagai penutup dari
pembicaranmu malam itu. Maka jika enkau meninggal pada malam itu niscaya engkau
meninggal di atas fitrah”
Berkenaan
dengan hadits di atas, Syaikh Salim Al-Hilali berkomentar,” Lafazh-lafazh doa
merupakan hal yang bersifat tauqifiyah (tidak bisa ditetapkan kecuali dengan
dalil), lafazh tersebut memiliki kekhususan tersendiri dan rahasia-rahasia yang
tidak dapat dimasuki oleh qiyas. Maka wajib menjaga lafazh tersebut seperti apa
yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu
ketika Al Barra tersalah mengucapkan, " وَ برَسُولِكَ الذي أَرْسَلْتَ"
Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengoreksinya dengan
berkata,”Bukan begitu, "وَ بِنَبِيِّكَ الذي أَرْسَلْت"
Posisi
berbaring seperti yang dijelaskan dalam hadits di atas adalah posisi tidur
terbaik yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Karena pada posisi miring ke kanan,
makanan berada dalam lambung dengan stabil sehingga proses pencernaan berlangsung
lebih efektif.
Adapun
tentang posisi tidur yang terlarang, hadits berikut akan menjelaskan kepada
kita.
عَنْ يَعِيْشَ بن طِخْفَةَ
الغِفَاري رَضِي الله عنه قال : قال أَبي بَيْنَمَا أَناَ مُضْطَجِعٌ في المَسْجِد
ِعَلى بَطْنِي إِذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِي بِرِجْلِهِ فَقَال (( إَّنَّ هَذِهَ
ضِجْعَةٌ يُبْغِضَها اللهُ)) قال فَنَظَرْتُ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ
"Dari Ya’isy bin Thihfah ia berkata,”Ayahku
berkata,” Ketika aku berbaring (menelungkup) di atas perutku di dalam masjid,
tiba-tiba ada seseorang yang menggoyangkan tubuhku dengan kakinya lantas ia
berkata,” Sesungguhnya cara tidur seperti ini dibenci Allah” Ia berkata,”Akupun
melihatnya ternyata orang itu adalah Rasululullah”
Syaikh
Salim Al-Hilali menandaskan dalam Bahjatun Nazhirin, tidur menelungkup di atas
perut adalah haram hukumnya. Ia juga merupakan cara tidur ahli neraka.
Dan
dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga melarang kita
tidur dengan posisi sebagian tubuh terkena matahari dan sebagiannya lagi tidak.
Dari Abi
Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.
إِذَ كَان أَحَدُكُمْ في الشَمْسِ
فَقَلَصَ عَنْهُ الظِلُّ، فَصَارَ بَعْضُهُ في الشَمْسِ و بَعْضُهُ في الظِلُّ
فَلْيَقُمْ
“Jika
salah seorang diantara kalian berada di bawah matahari, kemudian bayangan
beringsut darinya sehingga sebagian tubuhnya berada di bawah matahari dan
sebagiannya lagi terlindung bayangan, maka hendaklah dia berdiri (maksudnya
tidak tetap berada di tempat tersebut)”
Tentang
tidur siang, sebagian ulama ada yang membaginya ke dalam tiga kategori:
Pertama
: Tidur siang pada tengah hari saat matahari bersinar terik. Tidur ini biasa
dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kedua
: Tidur pada waktu dhuha. Tidur ini sebaiknya ditinggalkan, karena membuat kita malas serta lalai untuk berusaha meraih
kemashlatan dunia dan akhirat
Ketiga
: Tidur pada waktu ashar. Ini merupakan waktu tidur yang paling jelek.
Sebagian
salaf juga membenci tidur waktu pagi. Ibnu Abbas pernah mendapati putranya
tidur pada pagi hari, lantas ia berkata kepadanya,”Bangunlah, apakah engkau
tidur pada saat rizki dibagikan?”
Oleh
karena itu sebaiknya tidur pagi ini ditinggalkan kecuali karena ada satu alasan
yang menuntut. Karena tidur pagi ini memberikan efek negatif bagi tubuh berupa
tertimbunnya sisa-sisa makanan di dalam perut yang seharusnya terurai dengan
berolahraga juga menimbulkan berbagai penyakit.
Di
atas telah disinggung bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidur pada
awal malam dan bangun pada pertengahan malam. Beliau bangun ketika mendengar
kokok ayam jantan dengan memuji Allah dan berdoa.
الحَمْدُ اللهِ الَذِي أَحْيَاناَ
بَعْدَ ما أَمَاتَناَ وَ إِلَيْهِ النُشُور
“Segala
puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan
kepadanya seluruh makhluk kan dibangkitkan”
Lalu
Beliau bersiwak kemudian berwudhu dan shalat. Satu pengaturan yang memberikan
hak bagi fisik serta jiwa manusia sekaligus. Karena istirahat yang cukup akan
memulihkan kekuatan tubuh dan menopang kita agar dapat beraktivitas dan
beribadah dengan baik. Adapun shalat, merupakan aktivitasritual yang akan memberikan ketenangan bagi jiwa.
Dalam
satu hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ تَعَارَّ مَنَ اللَيْلِ فقَال
حِيْنَ يَسْتَيْقِظُ: لا إله اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ له، لَهُ المُلْكُ وَ
لَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيْتُ،بِيَدِهِ الخَيْرُ و هو على كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٌ، سُبْحَان الله وَ الحَمْدُ للهِ ولا إله إلا اللهُ و اللهُ أَكْبَرُ و
لا حَوْلَ و لا قُوَّةَ إلاَّ بالله، ثُمَّ قَال: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي أَوْدَعا
اسْتُجِيبَ لَهُ، فَإِنْ قَامَ فَتَوَضَأُ ثُمَّ صَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ
“Barangsiapa bangun pada malam hari, kemudian ia
berdoa,” Tiada illah yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu
baginya, milikNyalah segala kerajaan dan pujian, Yang Maha menghidupkan dan
mematikan, di tanganNyalah segenap kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagiNya dan tiada illah yang berhak
disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, tiada daya serta upaya melainkan
dengan pertolongan Allah” kemudian setelah itu berdoa,” Ya Allah ampunilah aku”
ataupun doa yang selain itu niscaya dikabulkan doanya. Kemudian apabila ia
bangkit berwudhu lalu shalat maka akan diterima shalatnya,”
Sekiranya
kita mengkaji lembar-lembar sunnah niscaya kita kan mendapatkan petunjuk Rasulullah yang
sempurna bagi umatnya. Tidak akan ada yang mengingkarinya kecuali orang yang
memiliki sifat nifaq dan hasad dalam hatinya. Beliau telah memberikan teladan
bagaimana kita meraih keridhaan ilahi dalam setiap detik dari hidup kita,
kendati dalam masalah tidur.
Maka
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Wallahu
a’lamu bishshawab
Sabtu, 13 September 2014
Belajar Ikhlas dan Sabar
Belajar Ikhlas dan Sabar
Sering banget kita denger dua kata
ini, Sabar dan Ikhlas. Bahkan kita kadang kesel banget ya kalau kita lagi ada
masalah, terus teman kita berusaha membesarkan hati kita dengan “ Udahlah,
Ikhlasin aja. Sabar aja”. Enak banget ya ngomongnya, kan kita yang ngejalanin,
perasaan jadi ‘ngeselin’ banget ya. Nah sebenernya apa sih Sabar dan Ikhlas
itu.
Samain persepsi dulu ya. Sabar :
menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencari
keridhaan Allah. Kalo kita meReferensikan ke Al Qur’an: (Ar-Ra’d: 22)
Dalam Islam, sabar artinya sanggup menahan diri. Kesusahan yang diterima tidak menyebabkan perubahan perilaku. Ikhlas itu lebih berat dari sabar. Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Dalam Islam, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa mengharapkan apapun dari yang lain.
Berarti orang ikhlas itu dipuji atau dicaci harusnya hatinya sama saja. Dipuji-puji tidak merasa besar, dicaci macam apapun tidak merasa rendah.
Dalam Islam, sabar artinya sanggup menahan diri. Kesusahan yang diterima tidak menyebabkan perubahan perilaku. Ikhlas itu lebih berat dari sabar. Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Dalam Islam, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa mengharapkan apapun dari yang lain.
Berarti orang ikhlas itu dipuji atau dicaci harusnya hatinya sama saja. Dipuji-puji tidak merasa besar, dicaci macam apapun tidak merasa rendah.
Pada umumnya kita semua bisa lebih
sabar, disaat kita di uji Allah dengan hal yang menyenangkan, tapi saat kita di
uji Allah dengan ujian yang tidak menyenangkan, seperti ujian kesulitan, ujian
kehilangan dan atau musibah maka kebanyakan dari kita, akan merasa begitu sulit
menerimanya dan sulit untuk bisa sabar.
Ujian kesulitan, ujian kehilangan,
kekurangan musibah, penyakit, kemiskinan, adalah perkara biasa yang
dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini. Perhatikan firman Allah
SWT berikut ini
“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna
lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang
sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).
Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak
diuji lagi? (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 2)
Tapi susah banget ya dilaluinya.
Ketahuilah Sabar akan sangat sulit dilakukan, apabila kita tidak mampu menyadari,
bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, pada hakikatnya hanyalah ujian.
Harta yang kita miliki, karir yang bagus, rumah dan mobil mewah yang kita
miliki, anak dan keluarga, itu semua adalah ujian dari Allah dan titipan Allah.
Apakah kita bersyukur atau menjadi kufur?
Kita harus memahami dengan
sebaik-baiknya bahwa Allah lah pemilik yang sebenar-benarnya atas segala
sesuatu apapun yang kita miliki di dunia ini. Dengan menyadari bahwa semua yang
kita miliki sebenarnya adalah milik Allah dan titipan Allah, maka begitu Allah
mengambilnya dari kita, insya Allah kita akan lebih mudah merelakannya. Karena
kita menyadari, bahwa semua itu adalah milik Allah dan titipan Allah. Dan
yang namanya titipan, suatu saat nanti memang pasti akan kembali pada
pemiliknya, kapanpun pemiliknya menghendaki apa yang dititipkan kembali atau
mau mengambilnya dari kita, maka kita harus dengan rela memberikannya.
Jadi, jangan menjadi stres, terpukul
dan merasa kehilangan yang sangat berat, apabila kemarin kita masih punya
mobil, sekarang sudah tidak lagi, jangan stres dan bersedih hati apalagi sampai
meratapi nasib, apabila bulan kemarin usaha kita masih sukses, sedangkan
sekarang kita mengalami kegalalan yang besar.
Karena sesungguhnya dengan adanya
musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT.
Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:
“Tak seorang muslim pun yang ditimpa
gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan
dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan
dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR
Bukhari dan Muslim).
Ketahuilah dan yakinlah, bahwa
sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah SWT berikan untuk kita, maka
ada hikmah dan pahala yang besar yang menyertainya. Seperti sabda
Rasulullah SAW,
“Sesungguhnya pahala yang besar itu,
bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum
maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka
Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang
akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah
[146]).
Rasulullah SAW bersabda :
“Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik
mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT
dalam keadan telah bersih dari dosa (HR. Tirmidzi).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah
seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada
kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kita harus rela menerima segala
ketentuan Allah dan menyadari bahwa apapun yang terjadi, sudah
ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita wajib menerima segala ketentuan
Allah dengan penuh keikhlasan. Allah SWT berfirman :
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa
di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul
Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah
mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)
Apabila kita ditimpa musibah baik
besar maupun kecil, sebaiknya kita mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi
raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami
kembal). ini dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah
SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah, setelahnya
dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut :
“Ya Allah, berilah ganjaran atas
musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”
Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan doa di atas
niscaya Allah SWTakan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang
lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada
anak salah seorang hamba itu meninggal maka Allah bertanya kepada malaikat-Nya,
‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab, ‘Ya.’
‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab
‘Ya.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’. Mereka
menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ -membaca innaa lillaahi dst-..’ Maka
Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga, dan
beri nama rumah itu dengan Bait al-Hamd.’.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani
dalam as-Shahihah [1408]).
Perhatikan sabda Rasulullah SAW
berikut ini
“Sungguh mengagumkan urusan seorang
mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan
diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka
dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia
tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan
baginya.” (HR. Muslim)
Setiap amalan akan diketahui pahalanya
kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman
Allah SWT
“Sesungguhnya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala mereka tanpa batas.” (QS Az
Zumar: 10)
Berikut ini beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yang bila kita renungkan dan pahami dengan sebaik-baiknya,
insya Allah bisa membuat kita semua bisa sabar dan ikhlas dalam menghadapi
ujian-Nya yang paling berat sekalipun :
Kita harus percaya pada jaminan Allah
bahwa :
”Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al Baqarah [2] : 286).
Allah SWT yang memiliki diri kita,
sangat tahu kemampuan kita, jadi tidak akan mungkin Allah memberikan ujian yang
melebihi batas kemampuan kita.
Sebenarnya, kita semua pasti mampu
untuk bisa sabar dalam segala ujian dan segala keadaan, asalkan kita kuat iman.
Coba kita tanyakan pada diri kita,
saat kita ditimpa suatu ujian kesulitan, kesedihan dan atau kehilangan, apa
manfaat yang bisa kita ambil kalau kita tidak sabar dan tidak mengikhlaskannya?
Apakah dengan ”tidak sabar” dan ”tidak ikhlas” nya kita, maka bisa menghadirkan
kenyamanan untuk kita? Atau bisa membuat ujian tersebut tidak jadi datang atau
tidak jadi menimpa kita? Sekarang mari kita pikirkan kembali, kita sabar atau
tidak sabar, ikhlas atau tidak ikhlas, ujian kesulitan / kesedihan atau musibah
tetap terjadi dan menimpa kita kan? Jadi lebih baik kita terima dengan
penuh kesabaran dan keikhlasan. Bila kita bisa sabar dan ikhlas menerimanya,
maka insya Allah, tidak akan terasa berat lagi ujian tersebut, percayalah. Dan
ingat, dalam sabar, terkandung ridha Allah SWT. Dan ridha Allah SWT terhadap
kita, adalah segalanya.
Kita harus selalu baik sangka kepada
Allah SWT dan jangan pernah sekalipun meragukan dan mempertanyakan keputusan,
ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah. Kita harus bisa sabar dan
ridha terhadap apapun keputusan, ketetapan dan pengaturan-Nya. Kalau kita masih
merasa tidak puas dengan semua keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan
Allah itu, maka cari saja Tuhan selain Allah. Perhatikan firman-Nya dalam
hadits Qudsi :
”Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan
Aku. Siapa saja yang tidak sabar menerima cobaan dari-Ku, tidak bersyukur atas
nikmat-Ku dan tidak ridha dengan ketentuan-Ku, maka bertuhanlah kepada Tuhan
selain Aku.” (hadist ini diriwatkan oleh al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir
melalui jalur Abu Hind al-Dari)
Kita baru akan merasa kehilangan apa
yang kita miliki, jika benar benar telah kehilangannya. Oleh karenanya
pergunakan waktu kita. Untuk masalah keluarga “Kasih Sayang harus terasa dan
tercurah betul didalamnya”. Mengalah saja kita. Contoh : Kita pasti sering juga
berselisih paham dgn OrTu. Jangan dijadiin kesel berlebihan. Pikirkan, Jika
salah satu dari orTu sudah tiada, Hal seperti inilah yang akan kita rindukan.
Percayalah.
Karena itu, marilah kita sabar dan
ikhlas dalam segala keadaan, yakinlah bahwa janji Allah pasti benar.
Percayalah, sabar dan ikhlas, akan membuahkan kebahagiaan hidup. Atau merasa
masih belum cukup? Ok. Kita buka lagi hati kita. Jika kita kehilangan sesuatu,
apa yang bisa kita tarik sebagai pelajaran? Nah, Silahkan membaca point point
dibawah ini. Kehilangan mengajarkan beberapa hal penting yaitu:
1. Mengajarkan bahwa dunia itu semu
Dunia itu fana. Alam materi yang saat ini kita rasakan tidaklah kekal. Harta, Jabatan, Usaha, Pasangan, Saudara, Semua. Hanya masalah waktu saja sebelum kehilangan itu terjadi. Betapa keras usaha kita untuk mempertahankannya suatu saat pasti akan juga hilang dari genggaman. Dengan menyadari dunia itu semu, sudah semestinya kita mengejar sesuatu yang kekal: Akhirat!
Dunia itu fana. Alam materi yang saat ini kita rasakan tidaklah kekal. Harta, Jabatan, Usaha, Pasangan, Saudara, Semua. Hanya masalah waktu saja sebelum kehilangan itu terjadi. Betapa keras usaha kita untuk mempertahankannya suatu saat pasti akan juga hilang dari genggaman. Dengan menyadari dunia itu semu, sudah semestinya kita mengejar sesuatu yang kekal: Akhirat!
2. Mengajarkan tentang Siapa Pemilik
Sejati
Dengan menyadari bahwa semua yang ada pada kita adalah titipan (amanah) dari Allah maka ketika titipan tersebut diambil oleh Allah kita akan merasa lebih lapang dada.
Dengan menyadari bahwa semua yang ada pada kita adalah titipan (amanah) dari Allah maka ketika titipan tersebut diambil oleh Allah kita akan merasa lebih lapang dada.
3. Mengajarkan kita untuk bersyukur
Kadang kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu atau seseorang bagi diri kita ketika ia hilang Jika kita masih memiliki anggota tubuh yang lengkap maka bersyukurlah dengan menggunakannya untuk beramal baik pada setiap kesempatan. Cobalah untuk membayangkan jika besok kita kehilangan mata kita? kira-kira apa yang akan kita lakukan sekarang? Mungkin ketika kita menjadi buta barulah kita akan berkata “seandainya aku masih bisa melihat sekarang maka aku pasti akan membaca Al Quran setiap hari walau satu ayat.”
Kadang kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu atau seseorang bagi diri kita ketika ia hilang Jika kita masih memiliki anggota tubuh yang lengkap maka bersyukurlah dengan menggunakannya untuk beramal baik pada setiap kesempatan. Cobalah untuk membayangkan jika besok kita kehilangan mata kita? kira-kira apa yang akan kita lakukan sekarang? Mungkin ketika kita menjadi buta barulah kita akan berkata “seandainya aku masih bisa melihat sekarang maka aku pasti akan membaca Al Quran setiap hari walau satu ayat.”
4. Peringatan
Saya pernah membaca sebuah kisah nyata. Ada seseorang yang menabung untuk naik haji. Lalu, ketika uang sudah terkumpul cobaan datang. Ia ditawari oleh seseorang untuk menanamkan modal dalam suatu bidang usaha yang keuntungannya begitu menggiurkan. Akhirnya uang yang tadinya diniatkan untuk membiayai ongkos naik haji tersebut malah dipakainya untuk investasi. Karena ia berpikir jika nanti ia mendapat keuntungan dari usaha tersebut maka uangnya bisa dipakai juga untuk ongkos naik haji. Namun, tidak lama berselang usaha tersebut habis terbakar.
Saya pernah membaca sebuah kisah nyata. Ada seseorang yang menabung untuk naik haji. Lalu, ketika uang sudah terkumpul cobaan datang. Ia ditawari oleh seseorang untuk menanamkan modal dalam suatu bidang usaha yang keuntungannya begitu menggiurkan. Akhirnya uang yang tadinya diniatkan untuk membiayai ongkos naik haji tersebut malah dipakainya untuk investasi. Karena ia berpikir jika nanti ia mendapat keuntungan dari usaha tersebut maka uangnya bisa dipakai juga untuk ongkos naik haji. Namun, tidak lama berselang usaha tersebut habis terbakar.
Jadi ternyata kehilangan juga bisa
menjadi suatu peringatan akan kekhilafan yang kita lakukan.
5. Cobaan
Kembali lagi. Kehilangan tak jarang merupakan suatu cobaan yang dapat menghapuskan dosa-dosa jika kita bersabar.
Kembali lagi. Kehilangan tak jarang merupakan suatu cobaan yang dapat menghapuskan dosa-dosa jika kita bersabar.
Adakah pelajaran lain yang kita
tangkap dari “sebuah kehilangan?” Lalu mau kah sekarang kita perbanyak dalam
hal “Bersyukur”. Yup..Perbanyak ucapan bersyukur hindari mengeluh, dan Sabarlah
serta Ikhlaskan diri kita agar berjalan beriringan dengan ketetapan Nya. Tidak
mudah memang untuk sabar dan ikhlas, butuh proses. Laa Tahzan.
Oleh karena nya kita ber do’a kepada
Allah, semoga selalu menerangi jalan kita..
Masuk surga Karena Anak Perempuan
Masuk surga Karena Anak Perempuan
Anak perempuan itu ujian tersendiri bagi kedua orangtuanya.
Apalagi hidup di masa banyak fitnah seperti saat ini. Namun, ia juga menjadi
lahan pahala besar ketika orangtuanya sanggup mengajarinya menjadi putri
shalehah.
Dalam kitab Riyadhus Ash-Shalihin, dikisahkan bahwa Aisyah
bertutur, suatu hari aku pernah didatangi seorang wanita miskin sembari
menggendong kedua bayinya.
Perempuan itu meminta sesuatu kepadaku.
Padahal, aku hanya memiilki satu butir kurma. Aku pun memberikan kurma itu
padanya, lalu ia membagi-bagikan kepada putrinya sementara ia sendiri tidak
memakan apa-apa darinya.
Aku benar-banar terharu
melihat perilaku ibu itu. Aku pun menceritakan apa yang aku lihat itu kepada
Rasulullah.
Rasulullah menanggapinya
sembari berkata, “Sungguh Allah pasti memasukkan wanita itu ke surga atau ia
dibebaskan dari api neraka dengan sebab putrinya-putrinya.”
"Barangsiapa yang diuji
dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka maka
mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka" (HR Al-Bukhari no
1418 dan Muslim no 2629)
Berbahagialah seorang ibu
yang memiliki anak perempuan lalu ia mengajarinya adab yang baik, akhlak yang
luhur, lalu dengan begitu ia mentransfer kesalehannya kepada yang lain.
(Sumber: Buku "Ya
Allah Bahagiakan Keluarga Kami" ; Muhammad Yasir).
Shodakoh Tidak Mesti dengan Materi
Shodakoh Tidak Mesti dengan Materi
Setiap Muslim, kata Rasulullah ﷺ dalam hadist riwayat
Al-Bukhari, wajib bersedekah.
Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah,
bagaimana jika ia tidak mempunyai apa-apa?”
Nabi ﷺ
menjawab, “Hendaknya ia bekerja dengan tangannya, mengambil sebagian untuk
dirinya, dan bersedekah darinya.”
Para shahabat bertanya, “Bagaimana jika
ia tidak mampu atau tidak melakukannya?”
Nabi ﷺ menjawab, “Hendaklah ia
membantu orang teraniaya yang membutuhkan pertolongan.”
Para shahabat bertanya,
“Jika ia tidak melakukannya?”
Nabi ﷺ menjawab, “Hendaklah ia
memerintahkan yang makruf.”
Mereka bertanya, “Jika ia
tidak melakukannya?”
Beliau menjawab, “Hendaklah
dia menjauhkan diri dari kejelekan, karena yang demikian juga merupakan
sedekah.”
Dalam hadist yang lain,
Rasulullah ﷺ
juga menjelaskan bahwa sedekah tidak mesti dengan materi. Beliau bersabda :
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu,ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda, ”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana
matahari terbit di dalamnya, kamu mendamaikan di antara dua orang adalah
sedekah, kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau
mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah
sedekah, pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju shalat adalah sedekah,
dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.”(HR.al-Bukhari ,no.2989
dan Muslim, no 1009)
Jumat, 13 Juni 2014
Akhlak Islami Dalam Bertetangga
Akhlak Islami Dalam Bertetangga
Demikian penting dan
besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim, Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya) :
|
"وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
|
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang
tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki
hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan
hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)
Hak dan kedudukan
tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Sampai-sampai sikap bertetangga
dijadikan sebagai indikator keimanan.
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
|
مَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
|
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari 5589, Muslim
70)
Bahkan besar dan
pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah ditekankan,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
|
مَا زَالَ
جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
|
“Jibril senantiasa menasehatiku tentang
tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta
waris” (HR. Bukhari 6014, Muslim 2625)
Syaikh Abdurrahman As
Sa’di menjelaskan ayat ini: “Tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar
haknya. Maka sudah semestinya seseorang mempererat hubungannya terhadap
tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab hidayah, dengan sedekah, dakwah,
lemah-lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak memberikan gangguan baik
berupa perkataan dan perbuatan” (Tafsir As Sa’di, 1/177)
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam juga bersabda:
|
خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ
|
“Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah
yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di
sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At
Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah
Ash Shahihah 103)
Ancaman Atas Sikap Buruk
Kepada Tetangga
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti
tetangga. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman,
tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau
menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘”
(HR. Bukhari 6016, Muslim 46)
Bahkan mengganggu
tetangga termasuk dosa besar karena pelakunya diancam dengan neraka. Ada
seorang sahabat berkata:
يا رسول الله! إن فلانة تصلي الليل وتصوم النهار، وفي لسانها شيء تؤذي جيرانها. قال: لا خير فيها، هي في النار
“Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat
malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah
bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’” (HR. Al Hakim dalam
Al Mustadrak 7385, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Adabil
Mufrad 88)
Bentuk-Bentuk Perbuatan
Baik Kepada Tetangga
Semua bentuk akhlak yang baik adalah
sikap yang selayaknya diberikan kepada tetangga kita. Diantaranya adalah
bersedekah kepada tetangga jika memang membutuhkan. Bahkan anjuran bersedekah
kepada tetangga ini sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam :
لَيْسَ الْـمُؤْمِنُ الَّذيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ
“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya
sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra
18108, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149)
Beliau juga bersabda:
إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ
“Jika engkau memasak
sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah
sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim 4766)
Dan juga segala bentuk
akhlak yang baik lainnya, seperti memberi salam, menjenguknya ketika sakit,
membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut, bermuka cerah di depannya,
menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya.
Jika Bertetangga Dengan
Non-Muslim
Dalam firman Allah
Ta’ala pada surat An Nisa ayat 36 di atas, tentang anjuran berbuat baik pada
tetangga, disebutkan dua jenis tetangga. Yaitu al jaar dzul qurbaa (tetangga
dekat) dan al jaar al junub (tetangga jauh). Ibnu Katsir
menjelaskan tafsir dua jenis tetangga ini: “Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan
dari Ibnu Abbas bahwa al jaar dzul qurbaa adalah tetangga yang
masih ada hubungan kekerabatan dan al jaar al junub adalah
tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan”. Beliau juga menjelaskan:
“Dan Abu Ishaq meriwayatkan dari Nauf Al Bikali bahwa al jaar dzul
qurbaa adalah muslim dan al jaar al junub adalah
Yahudi dan Nasrani” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/298).
Anjuran berbuat baik
kepada tetangga berlaku secara umum kepada setiap orang yang disebut tetangga,
bagaimana pun keadaannya. Ketika menjelaskan hadits
مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Jibril senantiasa menasehatiku tentang
tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta
waris”
Al ‘Aini menuturkan:
“Kata al jaar (tetangga) di sini mencakup muslim, kafir, ahli
ibadah, orang fasiq, orang jujur, orang jahat, orang pendatang, orang asli
pribumi, orang yang memberi manfaaat, orang yang suka mengganggu, karib
kerabat, ajnabi, baik yang dekat rumahnya atau agak jauh” (Umdatul Qaari,
22/108)
Demikianlah yang
dilakukan para salafus shalih. Dikisahkan dari Abdullah bin ‘Amr Al Ash:
أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ، فَجَعَلَ يقول لغلامه: أهديت لجارنا اليهوي؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجارحتى ظننت أنه سيورثه
“Beliau menyembelih seekor kambing. Beliau
lalu berkata kepada seorang pemuda: ‘akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga
kita yang orang Yahudi’. Pemuda tadi berkata: ‘Hah? Engkau hadiahkan kepada
tetangga kita orang Yahudi?’. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda ‘Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga,
hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris‘”
(HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad 78/105, dishahihkan
oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad)
Oleh karena itu para
ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam:
Tetangga muslim yang
memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak, yaitu: hak tetangga, hak
kekerabatan, dan hak sesama muslim.
Tetangga muslim yang
tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia memiliki 2 hak, yaitu: hak
tetangga, dan hak sesama muslim.
Tetangga non-muslim.
Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga.