Sabtu, 04 Januari 2014

Amal Sholeh Bukan Jaminan Masuk Syurganya Allah SWT


Tidak ada jaminan kalau orang yang tekun beribadah itu pasti masuk surga. Orang bisa masuk surga bukan ditentukan oleh amal ibadahnya, melainkan karena memperoleh rahmat dan ridha Allah.
Rahmat dan ridha Allah ini diraih dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Rasulullah saw. pun tidak berani menjamin seseorang masuk surga. Sebab, yang menentukan orang itu bisa masuk surga atau neraka adalah Allah sendiri.
Ini seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda,
"Tidak ada seorang pun dari kalian yang amalnya bisa menyelamatkan dirinya."
Lantas para sahabat bertanya, "Termasuk engkau juga tidak bisa menyelamatkannya?"
Beliau menjawab, "Aku juga tidak bisa menyelamatkan, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya." Rasulullah saw. pun bersabda,
"Tidak ada amal seorang pun yang bisa memasukkannya ke surga."
Lalu ditanyakan, "Engkau juga tidak bisa memasukkan ke surga?"
Beliau menjawab, "Aku juga tidak bisa, kecuali dengan limpahan rahmat Tuhanku."
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda,
"Tidak ada amal saleh seorang dari kalian yang bisa menyebabkan masuk surga."
Para sahabat bertanya, "Dan engkau juga tidak bisa, ya Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Aku juga tidak bisa, kecuali Allah melimpahkan anugerah dan rahmat-Nya."
Jabir berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda,
"Amal saleh seorang dari kalian tidak bisa menyebabkan kalian memasukkan ke surga, dan tidak dapat menyebabkan kalian terlempar ke neraka. Aku juga tidak bisa, kecuali dengan rahmat dari Allah. "
Abdurrahman bin Auf mendapat hadits dari Aisyah r.a., istri Rasulullah, bahwa ia berkata Nabi Muhammad
saw. pernah bersabda,
"Istiqamahlah kalian, bertakarublah kalian, dan bergembiralah kalian. Sesungguhnya tidak ada amal seorang pun yang bisa menyebabkan kalian masuk surga."
Para sahabat bertanya, "Termasuk engkau juga tidak bisa, ya Rasulullah?"
Beliau menjawab,
"Aku pun tidak bisa, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat-Nya. Karena itu, beramallah kalian. Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah yang istiqomah/langgeng, meskipun sedikit. "
Dengan demikian, seseorang tidak bisa mengandalkan amal ibadahnya sebagai jaminan bahwa dirinya nanti pasti masuk surga. Hanya rahmat dan ridha Allah-lah yang bisa memasukkannya ke surga.

Oleh karena itu, dalam setiap menjalankan amal ibadah, kita harus didasari oleh rasa ikhlas dan semata-mata mencari ridha Allah, tidak karena yang lain. Sebab bila yang dicari adalah surga, hal itu malah dapat menjebak kita untuk terjerumus dalam perbuatan ria dan takabur.

Merindukan Mati Syahid

Merindukan Mati Syahid…


Salah satu fenomena menonjol yang terlihat pada kebanyakan warga Gaza ialah kecintaan mereka akan mati syahid. Setiap kali seorang anggota keluarga diwawancarai mengenai nasib keluarganya, maka ia otomatis menjawab: ”Abang saya telah syahid ketika kena mortir Yahudi.” Istilah syahid untuk mengungkapkan kematian anggota keluarga tampaknya sudah menjadi kebiasaan di kalangan warga Gaza. Entah ini merupakan keberhasilan Hamas dalam mempersiapkan warga Gaza menghadapi keadaan seperti yang mereka alami dewasa ini atau memang ini sudah menjadi pemahaman mendarah daging bangsa Palestina. Apapun, yang jelas ini merupakan nilai mulia menurut ajaran Islam.
Dalam banyak hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sering menyebut-nyebut tentang orang-orang Syam. Wilayah Syam adalah suatu kawasan yang dewasa ini meliputi empat negeri yakni Palestina, Jordania, Suriah dan Lebanon. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyatakan bahwa pasukan yang terkonsolidasi dengan baik di akhir zaman keberadaannya bakal ada di wilayah Syam.

Seorang Muslim akan memiliki kesiapan apalagi kecintaan untuk mati syahid bilamana ia memahami kewajiban jihad di jalan Allah. Hanya mereka yang memuliakan kewajiban jihad-lah yang dapat memiliki kerinduan untuk mati syahid. Itulah sebabnya dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan betapa pentingnya setiap lelaki Mukmin bercita-cita untuk terlibat dalam perang di jalan Allah. Dan betapa besarnya bahaya bagi seorang Mukimin yang tidak pernah berperang di jalan Allah dalam hidupnya atau sekurangnya memancangkan cita-cita untuk berperang di jalan Allah dalam hidupnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata: bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Barangsiapa mati dan tidak pernah berperang (di jalan Allah) dan tidak pernah bercita-cita untuknya, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR Muslim 3533)
Hadits di atas bukan berarti Islam menganjurkan ummatnya untuk bermental haus darah. Tetapi hadits tersebut mengarahkan seorang Muslim untuk menghayati betapa mahalnya ni’mat Iman dan Islam sehingga ia diharapkan siap mengorbankan segalanya demi menegakkan Islam hingga nyawanya, bilamana tuntutannya demikian.
Mengapa kebanyakan warga Gaza memperlihatkan kemantapan jiwa dalam situasi perang yang telah menelan korban hingga lebih 1200 nyawa dan lebih 5000 terluka? Tampaknya hal ini disebabkan karena nilai-nilai jihad di jalan Allah sudah cukup hebat tersosialisasi di antara kebanyakan warganya. Kesadaran bahwa upaya membebaskan diri dan tanah-airnya dari cengkeraman penjajahan Israel telah menyatu dengan panggilan jihad di jalan Allah.  Kesadaran inilah yang sepatutnya kita teladani dari bangsa Palestina. Suatu bangsa yang telah mengajarkan dunia betapa mulianya hubbul-jihad wasy-syahadah (cinta jihad dan mati syahid).
Saudaraku, inilah di antara pelajaran berharga di balik peristiwa mengenaskan yang terjadi di salah satu jengkal tanah suci, yakni Gaza. Tampaknya kebanyakan warga Gaza telah memahami bahwa kematian hanya akan datang sekali bagi setiap orang. Maka mereka berusaha untuk menjemputnya dengan seni kematian, yaitu mati mulia alias mati syahid. Artinya, bangsa ini telah lama meninggalkan penyakit wahan. Suatu penyakit yang menjangkiti kebanyakan manusia modern dewasa ini.  Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakita Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)
Saudaraku, kita sungguh berhutang budi kepada bangsa Palestina warga Gaza. Melalui pengorbanan mereka menghadapi kebrutalan mesin pembunuh massal pasukan Yahudi Zionis Israel kita semua, secara langsung maupun tidak langsung, memperoleh pendidikan mengenai pentingnya memelihara kecintaan berjihad dan kerinduan untuk mati syahid.

Ya Allah, peliharalah iman dan pengorbanan saudara-saudara kami di Gaza. Jadikanlah kami seperti mereka dalam hal kesiapan untuk berkorban di jalanMu. Ya Allah, jadikanlah kami mencintai jihad di jalanMu dan merindukan mati syahid sebagaimana bangsa Palestina warga Gaza.