Selasa, 07 Januari 2014

Sukses

Sukses 

Sukses menurut masyarakat, tidak jauh dari seputar: punya jabatan, banyak harta, anak-anaknya bertitel, menantunya yang kaya, bertitel dan punya jabatan, Semuanya serba bendawi.

Sukses yang di contohkan Qorun dan orang-orang yang sependapat dengannya:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (79)

“ Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ;Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar;"(Al-Qashash: 79)

Pandangan Qorun dan sebangsanya itu sangat tercela:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ(80)
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ(81)
وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ(82) 

" - Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Alloh adalah lebih baik bagi     orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”.
- Maka kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Alloh. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
- Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Alloh melapangkan rezki bagi siapa yang dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Alloh tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar dia Telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Alloh)”.
(QS Al-Qashash: 80, 81, 82).

Sukses menurut Fir’aun 
Sukses menurut Fir’aun adalah sukses dalam menghalalkan segala cara demi melanggengkan kekuasaannya; salah satu wujudnya adalah mengerahkan dukun sihir, maka siapa yang menang dalam main sihir itulah yang dianggap sukses.
Alloh Ta’ala mengisahkan dalam Al-Qur’an, ungkapan Fir’aun:

فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَى(64)

"Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini." (QS Thaha: 64).

Tafsir As-Sa’di menjelaskan perkataan Fir’aun bahwa siapa yang beruntung pada hari ini dan lulus serta mengalahkan orang lain (dengan sihir itu) maka benar-benar orang yang beruntung lagi jaya, maka hari ini adalah hari yang menentukan untuk memiliki hari-hari sesudahnya. (Tafsir As-sa’di juz 1 halaman 508).
Demikianlah, sukses menurut Fir’aun adalah kalau mampu mengalahkan pihak lawan dengan sihir yang dihimpunnya. Dan itu menentukan hari-hari selanjutnya. Dia hanya memikir kekuasaan di dunia ini, agar dapat mengalahkan lawannya pakai cara apapun. Tidak memikir  akherat, apalagi memikir dosa dari cara-cara yang dia tempuh dalam meraih kesuksesan yang ditujunya. Padahal sudah ada peringatan dari Allah Ta’ala:
إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى (74) [طه/74]
74. Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa (mujriman), maka Sesungguhnya baginya neraka jahannam. ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup[932]. (QS Thaha: 74)
[932] maksud tidak mati ialah dia selalu merasakan azab dan maksud tidak hidup ialah hidup yang dapat dipergunakannya untuk bertaubat.
{ مُجْرِمًا } أي: مشركا، يعني: مات على الشرك (تفسير البغوي – (ج 5 / ص 286)
Lafal  مُجْرِمًا mujriman dalam tafsir Al-Baghawi dijelaskan, mati dalam keadaan musyrik. (Tafsir Al-Baghawi 5/286).

Sukses menurut Alloh swt:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1)
 الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ(2)
 وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ(3)
 وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ(4)
 وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(5)
 إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(6)
 فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ(7)
 وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ(8)
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ(9)
 أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ(10)
 الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(11)

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,
3.Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6.Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki [budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir); maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu [Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya], maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
9. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
10. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi,
11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.

Sukses atau keberuntungan menurut Allah Ta’ala dalam ayat-ayat itu adalah perbuatan-perbuatan orang mu’min yang sangat menjaga aturan-aturan Allah Ta’ala dan menghindari larangan-laranganNya, ikhlas karena Allah , hingga akhirnya meraih surga untuk selama-lamanya.
Ketika Ummat Islam ini telah dididik yang jurusannya adalah akherat, maka bagi yang sukses dalam pendidikan itu akan menjadi orang-orang yang pandangan hidupnya adalah untuk akherat, hingga takut kepada maqam/kedudukan Tuhannya dan menahan hawa nafsunya, hingga balasannya adalah surga.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40)
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى  [النازعات/40، 41]

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
41. maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS An-Nazi’at/ 79: 40, 41).

Sebaliknya, bagi yang tetap melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka diancam neraka:

فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآَثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى  [النازعات/37-39]

37. Adapun orang yang melampaui batas,
38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,
39. maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (QS An-Nazi’at/ 79: 37-39).


Semoga yang telah Allah sediakan untuk Ummat Islam ini benar-benar yang menjuruskan pandangan hidup kita kepada akherat, bukan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Sehingga menjadi orang yang sukses sebagaimana dijanjikan oleh Allah Ta’ala, bukan sukses model Fir’aun atau Qarun yang hanya mementingkan kekuasaan di dunia atau harta di dunia belaka dengan menghalalkan segala cara.
Q-7/1/14


KETIKA ISLAM TINGGAL NAMA

KETIKA ISLAM TINGGAL NAMA

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
Akan datang suatu zaman pada manusia,
- Ketika itu tidak tinggal Islam kecuali namanya saja
- Dan tidak tinggal al-Qur’an kecuali tulisannya saja, 
- Masjid-masjid dibangun megah, namun kosong dari petunjuk, 
- Dan ulama mereka adalah makhluk yang terjelek yang berada di kolong langit, dari mulut-mulut mereka keluar fitnah dan (fitnah) itu akan kembali kepada mereka.” 
(HR. Al Baihaqy).

Apa yang Rasululah Sabdakan Terbukti Benar :

1. Sekarang Islam Tinggal Namanya Saja,
Mengaku Orang Islam Tapi Malu/Takut memakai atribut yang telah di contohkan oleh Rosululloh, bahkan berani  menghina kepada orang yang berjenggot,  bercelana cingkrang, berhijab untuk Muslimah dengan kata-kata keji, bahkan ada yang berani mengatakan “Mereka itu adalah kelompok teroris”. Dan tidak sedikit cendikiawan Islam yang menolak Mengunakan Hukum Islam.

2.Tidak tinggal al-Qur’an kecuali tulisannya saja ,
Biasanya al-Qur’an di baca sebagai pelengkap saat ada acara keagamaan, dan di kumandangkan menggunakan kaset/CD dengan maksud sebagai penghangat situasi saja.
Banyak pada keluarga muslim, al-Quran di baca hanya pada waktu senggang saja, karena di/menyibukan diri pada hal-hal yang tidak penting, seperti berlama-lama di depan computer/HP untuk bermain game, fB/WA/Twit an, dan tidak menutup kemungkinan melihat situs-situs yang dapat membawa pengaruh buruk pada prilaku maupun Aqidah.

3. Masjid Masjid dibangun Megah Namun Kosong Hidayah.
Padahal zaman Rasul dan Sahabat Masjid adalah bangunan yang sangat penting perannya, tak jarang stategi perang di rundingkan disana, semua urusan umat di rapatkan di sana.
Sekarang banyak yang berusaha untuk membangun Masjid dengan megah yang di uasahan melalui cara yang aneh-aneh, misalnya dengan jaring ikan di pinggir-pinggir jalan, dan setelah berdiri dengan megah hanya menjadi tempat Sholat berjamaah 5 waktu semata, itupun paling banyak hanya 2shaf saja , Masjid penuh hanya pada Waktu Sholat Jum’at dan Sholat ied, memakmurkan Masjid dengan Kajian-kajian Islam jarang adanya bahkan tak jarang yang di Kunci (takut Kemalingan.

4. Dan ulama mereka adalah makhluk yang terjelek yang berada di kolong langit, dari mulut-mulut mereka keluar fitnah dan (fitnah) itu akan kembali kepada mereka.” 

“Ulama Su' (ulama Jahat) Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama sû’. mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa/masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu. (HR al-Hakim).

Astagfirullah...

Q-01/01/2014